The Earth Trembles – [bahasa txt]

Firs two version of the text The Earth Trembles were released in 2015 in Czech and English. In 2017 released new version in Bahasa.

0

Sungguh tidak terbayangkan! Tiba-tiba semua menjadi gelap gulita dan kami saling dorong-mendorong sambil berdoa semoga tidak ada benda berat yang jatuh menghantam menghancurkan kepala-kepala kami dan berharap semoga kami semua selamat. Satu menit kemudian… segalanya usai. Kami tahu sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang menakutkan. Kabut tebal setinggi seratus meter membubung semenit kemudian. Masing-masing kami berusaha mencari tempat perlindungan yang paling aman. Saat itu gelap pekat sepenuhnya, jarak pandang nol dan kami saling berjejalan. Segalanya goyah, ada benda-benda yang berjatuhan dan ada yang beterbangan. Lalu usai.

Kami tidak yakin apa yang harus kami lakukan: entah harus pergi atau diam tidak beranjak.

1

Sebuah bencana bukanlah sesuatu yang mengancam untuk terjadi dalam waktu dekat, atau, sebaliknya, sesuatu yang telah terjadi belum lama ini. Bencana adalah sesuatu yang sedang kita alami tepat saat ini.

Tidak ada ketentuan mengenai waktu yang tepat kapan kehancuran akan terjadi. Dunia tidak berakhir dengan sebuah ledakan besar. Bumi gemetar. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang menyebabkan bencana. Penyebabnya terdapat di suatu tempat jauh di masa lalu dan sama sekali terpisah dari saat ini. Malapetaka adalah sebuah mujizat negatif, sebuah kutukan, dan tak satu penebusanpun mampu membatalkannya. Sebuah bencana hanya bisa diperingan oleh intervensi dari sesuatu yang tak terduga, misalnya oleh peristiwa yang memicunya. Apapun yang dicoba tak akan masuk akal; hanya harapan yang tak masuk akal yang masuk akal.

Apakah sesungguhnya sebuah bencana? Mungkin rancangan bencana mesti dimengerti sebagai sebuah metafora atau sebagai sebuah pernyataan dari sebentuk lain kegelisahan. Berapa lama sebuah malapetaka ada tanpa sebuah penggerak baru? Apa yang akan terjadi jika tidak lagi ada seorangpun yang muncul membawa sesuatu yang mengejutkan?

Malapetaka menunjukkan bahwa akhir sudah datang, bahwa masa depan hanya bisa menawarkan pengulangan kepada kita, sebuah variasi dari satu hal yang sama. Apakah mungkin kita tidak lagi mengharapkan kejutan apapun lagi?

Konsekuansi dari kegelisahan adalah gejolak yang konstan. Di satu sisi, harapan bahwa cepat atau lambat sesuatu akan terjadi, di sisi lain, sebuah pandangan fatalistik bahwa tidak ada satu hal barupun yang dapat terjadi. Kita terombang-ambing dalam menunggu hal besar berikutnya. Sudah berapa lama sejak hal semacam itu terjadi, dan seberapa besarkah ia sebenarnya?

2

1. Lalu, apa yang memicu hasrat?

2. Sebuah keinginan asing, dan oleh sebab itu air mata bukanlah miliknya atau miliknya, atau bukan hanya miliknya atau miliknya.

1. Ia di atas segalanya!

3

1. Ketika kapal tenggelam aku tidak bisa menemukan teman-temanku.

2. Tapi emosi itu bukanlah miliknya, karena ia terlalu kuat untuk dimiliki satu orang saja.

3. „Di mana mereka?“ tanyaku. Lalu aku menemukan seorang teman, tapi aku tidak pernah lagi melihat yang seorang lagi.

Kami saling menolong, tapi sangat sulit untuk berenang selama berjam-jam saat itu. Kami mencari teman-teman atau anggota keluarga di air.

2. Kesaksian seperti apa yang mungkin ada di persimpangan antara penghinaan, hasrat, dan amarah?

1. Ketika sesuatu terjadi terhadap tubuh yang tidak bisa diselamatkan, hanya kata-kata yang tersisa.

2. Rumus sederhana. Hirup napas, embuskan.

1. Apa yang kita hirup, apa yang kita embuskan, apa yang melindungi kita, membuat kita tetap hidup menit demi menit, ketika kita menghirup dan mengembuskan semesta raya.

1. Kita bernapas, kita menghirup ke dalam kata-kata, dan ketika napas tersimpan dalam kata-kata, tubuh diberikan kepada yang lain.

2. Tubuh yang keberadaannya berdekatan dengan yang lain rentan terhadap cidera. Cidera adalah sebuah siksaan terhadap kelemahan.

1. Ketika tubuh yang terpenjara mengajukan permintaannya, hasrat berkumandang. Sang tubuh masih tetap bernapas, meskipun ia dicegah untuk bernapas.

4

Jika masa depan kelelahan, tidak ada yang tersisa untuk kita. Kau berjalan di sepanjang pantai dan melihat benda-benda disingkirkan dari konteksnya: tumpukan benda-benda di atas kapal para penakluk semesta yang naif atau semacamnya. Sebuah imaji sugestif tentang bagaimana sang proses bekerja.

5

1. Aku tidak akan bisa membiasakan diri dengan hal itu. Keadaan yang kita hadapi adalah malapetaka.

2. Ketika aku berbaring, bumi di bawahku bergerak. Suatu perasaan yang sangat aneh. Aku tidak akan bisa membiasakan diri.

1. Akan ada tenang setelah badai datang.

2. Mungkin kau bertanya mengapa kita tidak pergi ke tempat lain. Aku ingin, tapi tidak ada tempat yang bisa dituju.

6

1. Tubuh bukanlah sebuah penghalang. Sebaliknya, tubuh adalah tempat pikiran menenggelamkan diri atau harus menenggelamkan diri agar dapat mencapai yang tak terpikirkan. Yaitu, kehidupan.

2. Bukannya tubuh tidak berpikir, tetapi dalam ketegarannya, tubuh bersikeras memikirkan apa yang tidak terpikirkan — kehidupan. Kategori kehidupan — yaitu perilaku-perilaku tubuh, adalah keadaan. Apa saja yang bisa dilakukan tubuh ketika tidur? Seberapa besar kekuatan di dalamnya, dan ketahanan seperti apa yang dimilikinya?

3. Kita bahkan tidak mengetahui apa yang mampu dilakukan tubuh. Jika berpikir berarti menemukan, apa yang bisa dicapai oleh tubuh yang tidak berpikir?

1. Tubuh tidak pernah ditempatkan di saat ini. Tubuh merangkum yang telah dan yang akan. Rasa lelah dan penantian.

2. Rasa lelah, penantian, putus harapan — hal-hal ini juga adalah perilaku.

1. Apa yang akan terjadi, ketika segalanya telah dikatakan?

7

Suara yang mengiringi peristiwa itu menegaskan pengulangan, kehadiran angin dan pergerakan kaki di permukaan segala.

8

1. Sebagian orang mungkin melihat peristiwa itu sebagai sebuah usaha untuk kembali kepada percakapan melalui ritma.

2. Yang lain, sebaliknya, menganggapnya sebagai perubahan dari dinding suara menuju kesunyian dan kebisingan berikutnya.

3. Ini adalah tentang sebuah upaya terhadap penemuan kembali tubuh (sosial) melalui peristiwa, tetapi juga sebuah upaya untuk melarikan diri dari pengaruh apapun yang membentuk peristiwa semacam itu.

1. Kita hanya bisa mengikuti lintasan ganda hasrat melalui cara-cara yang beragam.

2. Biografi orang-orang yang tak dikenal. Geografi tanpa biografi. Tak terhitung jumlah mereka yang tak dikenal itu yang menghilang dalam hening.

3. Kembalinya keheningan berkumandang di sebuah dinding suara raksasa. Dan kemudian, ke manapun kita beranjak, ibukota akan mengiringi ke segala tempat.

9

Kabut yang berbisik dan mendengung dan tarian butir-butir debu. Keadaan yang seperti tidur atau terkantuk-kantuk. Pingsan — lumpuh.

1. Aku mendengar suara laut atau sekumpulan banyak orang, tapi tidak mendengar bisikan masing-masing ombak atau masing-masing orang, yang telah membentuk suara itu.

10

3. Selama jam berikutnya, ketika angin pagi yang lembut menjadi semakin kencang, membentuklah sebuah awan debu.

1. Kadang-kadang, ketika angin mereda, kerumunan orang-orang menghidalng dalam kabut. Ketegangan, suara gemeretak, dan teriakan makin meningkat. Segalanya menjadi semakin jelas. Suara-suara teriakan meninggi, jeritan orang-orang yang panik bertanya-tanya dalam bahasa-bahasa asing apa yang terjadi di balik selimut kabut.

11

2. Mendadak, dari antah berantah muncul pertanyaan: mengapa tidak melanjutkan tanpa tubuh saja?

1. Mengapa tidak? Apakah di sini ada yang menganggap hal tersebut ganjil?

3. Tidak adanya tubuh bukanlah hal yang buruk, kecuali jika di sini ada seseorang yang baginya ketiadaan tubuh itu merupakan sebuah kekurangan.

12

2. Segulung ombak yang terkucil, ombak di luar lautan.

13

1. Aku memejamkan mata. Tiba-tiba datanglah dingin. Yang lain menunduk menatap lantai, tak menjawab.

2. Ada seorang laki-laki di situ. Setelah delapan jam dia berkata kami harus tetap berada di arah yang sama. Dia mengisi tangki dengan bahan bakar lalu melompat ke air. Dia tak pernah muncul lagi.

3. Beberapa orang minum air laut yang asin, kemudian melompat ke air, tak pernah muncul lagi.

1. Kami kehilangan konsentrasi. Banyak yang mati. Kami buang tubuh-tubuh mereka ke air. Saat itu gelap. Aku tidak tahu ada berapa jumlah mereka di sana saat itu.

14

1. Pertanyaan yang sama muncul kembali: mengapa tidak melanjutkan tanpa tubuh, jika hasrat dari tubuh-tubuh itu harus disangkal?

15

2. Bagaimanapun sulitnya, kita harus mempertimbangkan sebuah kapal atas dasar sebuah potensi yang melampaui jiwa-jiwa yang membimbingnya dan tubuh-tubuh yang menjadikannya sebuah kenyataan.

3. Sang tubuh adalah sebuah analogi dari sebuah kapal yang terus-menerus diperbaiki bangsa Eropa. Memang sebuah simpul yang aneh.

1. Ketika tubuh-tubuh terpental dari dinding, semua memiliki sesuatu kesamaan.

16

2. Gema-gema yang jauh menentukan arah pergerakan.

1. Dan dari sanalah pandangan melampaui pendengaran. Dari penggambaran pribadi menuju sebuah gema kolektif, efek dari bisikan dan ketergesaan orang-orang.

17

Kini, sudah sangat lama dunia diperlakukan sebagai sebuah ilusi atau sebuah mimpi. Semua orang mengetahui dengan baik bahwa halusinasi tidak meniru keadaan saat ini, tetapi bahwa keadaan saat inilah halusinasi.

18

2. Ketika kapal itu berlayar maju di air, kita menyebut pergerakan kendaraan itu adalah penyebab gerakan-gerakan di air yang membanjiri tempat dari mana kapal itu berangkat.

19

1. Mereka tidak memberi kita satupun peta. Nihil. Mereka hanya bilang „Pergilah langsung ke arah ini.“

2. Tidak ada yang bisa kembali. Aku menyaksikan tiga orang jatuh ke air. Kami ada 107 orang. Duapuluh menit kemudian, kapal terjungkal dan aku pun jatuh ke air. Aku tidak bisa bernapas. Rasa mual makin menjadi. Aku juga melihat seorang anak laki-laki jatuh, begitu saja. Aku tidak tahu apakah dia hanya pingsan atau tewas. Kemudian aku menyadari bahwa dia hanya menutupi matanya agar tidak melihat ombak, tidak lebih.

20.

1. Apakah itu sungai yang sama, hal yang sama, ataukah itu adalah situasi yang sama?

2. Mereka yang mengendalikan hidup masing-masing tidak akan pernah kita kenal.

21

Sebuah bencana bukanlah sesuatu yang mengancam untuk terjadi dalam waktu dekat, atau, sebaliknya, sesuatu yang telah terjadi belum lama ini. Bencana adalah sesuatu yang sedang kita alami tepat saat ini.

Tidak ada ketentuan mengenai waktu yang tepat kapan kehancuran akan terjadi. Dunia tidak berakhir dengan sebuah ledakan besar. Bumi gemetar. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang menyebabkan bencana. Penyebabnya terdapat di suatu tempat jauh di masa lalu dan sama sekali terpisah dari saat ini. Malapetaka adalah sebuah mujizat negatif, sebuah kutukan, dan tak satu penebusanpun mampu membatalkannya. Sebuah bencana hanya bisa diperingan oleh intervensi dari sesuatu yang tak terduga, misalnya oleh peristiwa yang memicunya. Apapun yang dicoba tak akan masuk akal; hanya harapan yang tak masuk akal yang masuk akal.

Apakah sesungguhnya sebuah bencana? Mungkin rancangan bencana mesti dimengerti sebagai sebuah metafora atau sebagai sebuah pernyataan dari sebentuk lain kegelisahan. Berapa lama sebuah malapetaka ada tanpa sebuah penggerak baru? Apa yang akan terjadi jika tidak lagi ada seorangpun yang muncul membawa sesuatu yang mengejutkan?

Malapetaka menunjukkan bahwa akhir sudah datang, bahwa masa depan hanya bisa menawarkan pengulangan kepada kita, sebuah variasi dari satu hal yang sama. Apakah mungkin kita tidak lagi mengharapkan kejutan apapun lagi?

Konsekuansi dari kegelisahan adalah gejolak yang konstan. Di satu sisi, harapan bahwa cepat atau lambat sesuatu akan terjadi, di sisi lain, sebuah pandangan fatalistik bahwa tidak ada satu hal barupun yang dapat terjadi. Kita terombang-ambing dalam menunggu hal besar berikutnya. Sudah berapa lama sejak hal semacam itu terjadi, dan seberapa besarkah ia sebenarnya?

 

The Earth Trembles – [video essay]

Video essay TET – (2015) demonstrating the pervasiveness of catastrophes as a specific type of permanent subconscious anxiety of all mankind. A series of question marks over human existence is based on a compelling commentary and visualisation by the OTCA Metapixel machine, which reveals to us the precise path to the extinction of all life on earth.

concept: Michal Cáb, Aleš Čermák
voice: Matěj Samec

Notes

((-))

Things have gotten closer to the sun

Shopenhaerian intensity

The thirst for annihilation

Wanted alone like a rhinoceros

Chaotic revelation

Corrupt timeline

Data solved itself

No masters –  no gods

This happened next

Unholy algorithm

Winter ist coming

Delirious inverse series

Hyperstitional politics

What then does desire cause?

Disaster for human race

Extradimensional influence

Interdimensional phenomena

Recurent neural network

Obtrusive inquiry in to the beyond

Temporal disorder

Net-centric warfare

Všude tam, kde je práce, je boj a represe surové kreativity, která se zda být totožná s umíráním.

Democracy dies in the darkness

Co se jeví jako lidstvo v histroii kapitalismu – je ve své podtatě invaze z budoucnosti do umělého inteligentního prostoru, který musí sestavit sebe sama výhradně ze zdrojů svého nepřítele.

A bridge too far – winter mute

Line of descent

Dark night of the Jakarta – differential geometry

It’s intimate polarization

Stability void of movement

A body leans toward whatever leans its way

Off or embraced

Xenovirus

An age of action

Vždycky přichází období, kdy stát jakožto organismus má se svými vlastními těly těžkosti a kdy jsou těla, domáhající se privilegií, sobě navzdory nucena oteřít se něčemu, co je přesahuje…

Kruh je ideální a organická stálá podstata, avšak kolo je vágní a tekutá podstata, která se liší jak od kruhu, tak od kulatých věcí. 

Fluent&Influer

Alien – insect – machine
 

The Earth Trembles – [Ed. 2], Jakarta

The Earth Trembles _ [Ed. 2] in Jakarta.

20/7 – 10/8/2017:  Ok. Video – Indonesia Arts Media Festival.

23/7/17: First event, Gudang Sirinah

6/7/17: Second event, Gudang Sirinah

Support: Tranzit.cz 

Firs two version of the text The Earth Trembles were released in 2015 in Czech and English. In 2017 released new version in Bahasa.

Sungguh tidak terbayangkan! Tiba-tiba semua menjadi gelap gulita dan kami saling dorong-mendorong sambil berdoa semoga tidak ada benda berat yang jatuh menghantam menghancurkan kepala-kepala kami dan berharap semoga kami semua selamat. Satu menit kemudian… segalanya usai. Kami tahu sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang menakutkan. Kabut tebal setinggi seratus meter membubung semenit kemudian. Masing-masing kami berusaha mencari tempat perlindungan yang paling aman. Saat itu gelap pekat sepenuhnya, jarak pandang nol dan kami saling berjejalan. Segalanya goyah, ada benda-benda yang berjatuhan dan ada yang beterbangan. Lalu usai.

Kami tidak yakin apa yang harus kami lakukan: entah harus pergi atau diam tidak beranjak.

The Earth Trembles – [english txt]

0.

It was unimaginable! Suddenly it was dark and we were pushing into each other and just praying that some heavy object wouldn’t crush our heads and we would survive.
A minute laterit was already over. We all knew that something had happened. It was terrifying. A hundred meter tall plume of crystalline ice for about a minute afterwards. Each of us tried to find the safest place possible. It was completely dark, the visibility was zero and we huddled next to each other. Everything was unstable, some things were falling and other things were rising. It was over.

We weren’t sure what to do: whether to leave or stay put.

1.

A disaster is not something that threatens to happen in the near future, or, on the contrary, something that has happened earlier. Rather it is something we experience right now. There is no specific moment of destruction. The world does not end with a big bang. The earth trembles. No one knows exactly what caused the disaster. Its cause lies somewhere in the distant past and is totally separate from the present. The catastrophe is a negative miracle, a curse, which no penance can undo. A disaster can only be alleviated by the intervention of something unpredictable, such as the event that triggered it. It makes no sense to try anything; only senseless hope makes sense.

What actually is a disaster? Maybe its design must be grasped as a metaphor or as an expression of some other kind of anxiety. How long can catastrophe exist without new stimuli? What happens if nobody comes up with anything surprising anymore?

A catastrophe suggests that the end has come, that the future can offer us only a repetition, a variation of one and the same thing. It is possible that we can no longer expect any surprises?

A consequence of anxiety is constant fluctuation. On the one hand the hope that sooner or later something has to happen, on the other the fatalistic view that nothing new can happen. We oscillate between waiting for the next big thing. How long has it been since something like that happened and how big was it actually?

2.

1. What, then, does desire cause?

2. A foreign desire, and therefore it seems that the tears are not his or hers, or not only his or hers.

1. It belongs above everything!

3.

1. When the boat sunk I couldn’t find my friends.

2. But that emotion is not his, because it is too powerful to belong to one person.

3. “Where are they?” I asked. Then I found one friend, but I never saw the other one again. We helped each other, but it was hard to swim for hours at a time. We all searched for our friends or family members in the water

2. What kind of testimonies are possible at the intersection of humiliation, desire and rage?

1. Whenever anything happens to the body that cannot be survived, only words remain.

2. Simple arithmetic. Inhaling and exhaling.

1. What we inhale, what we exhale, what protects us, keeping us alive minute by minute, when we inhale and exhale the universe.

1. We breath, we inhale into words, and as soon as the breath is stored in words, the body is passed on to another.

2. The body that exists close to others is susceptible to injury. Injury is an abuse of vulnerability.

1. When the imprisoned body utters its request, desire resounds. The body still breathes, even though it is prevented from breathing.

4.

If the future is exhausted, we are left with nothing. You stroll along the beach and see objects removed from their context: the accumulated objects aboard the boat of some naive conquerors of the universe or some such. A suggestive image of how the process works in practice.

5.

1. I can’t get used to it. The circumstances we face are catastrophic.

2. When I lie on the ground, the earth beneath me moves. It’s a terribly strange feeling. I can’t get used to it.

1. There will be calm after the storm.

2. Perhaps you are asking why we don’t go somewhere else? We’d like to, but there’s nowhere to go.

6.

1. The body is not an obstacle. On the contrary, it is something into which thought submerges or must submerge in order to achieve the unthought-of. That is, life.

2. It’s not that the body does not think, but in its obstinacy it compels thinking what is beyond thought life. The category of life – that is the attitudes of the body, its situation. What things can the body do in sleep? How much strength is in it, and what endurance does it have?

3. We don’t even know what the body can do. If thinking means discovering, what can the unthinking body achieve?

1. The body is never located in the present. It includes the before and after. Fatigue and anticipation.

2. Fatigue, anticipation, hopelessness – these too are attitudes.

1. What comes after, when everything has already been said?

7.

The sound that accompanies the event emphasizes repetition, the presence of wind and the movement of feet over any surface.

8.

1. Some people may perceive the event as an attempt to return to speech via rhythm.

2. Others, on the contrary, as a shift from the wall of sound towards silence and subsequent noise.

3. It is about an attempt at rediscovery of the (social) body via the event, but also an attempt at escape from any influences that form such an event.

1. We can only follow the double trajectory of desires through various methods.

2. Biographies of unknown persons. Geography without biographies. Countless numbers of those unknown ones disappear in dead silence.

3. The return of the silent resounds in a massive wall of sound. And then, wherever we go, we will be accompanied everywhere by the capital city.

9.

The murmuring, humming, fog and dance of particles of dust. A state similar to sleep or drowsing. Fainting – stupefaction.

1. I perceive the sound of the sea or a large gathering of people, but not the whisper of each wave or each person, from which they are nevertheless composed.

10.

3. During the following hour, as the gentle morning breeze grew stronger, a cloud of dust welled up.

1. Sometime, when the wind abated, the throng of people faded in the fog. Tension, rattling, shouting grew. Everything was more pronounced. The loud calls escalated, calls of frantic men guessing in foreign languages what had happened behind the veil of fog.

11.

2. Suddenly, from nowhere came the question: why not get by without bodies?

1. Why not? Is there anyone here who finds anything odd in that?

3. The absence of bodies is not a bad thing, unless there is someone here for whom that absence is a lack.

12.

2. A solitary wave, a wave outside the ocean.

13.

1. I closed my eyes. Suddenly there was cold. The others looked down at the ground, not answering.

2. There was a man there. After eight hours he said we should keep on in the same direction. He filled the tank with fuel and jumped in the water. He was never seen again.

3. Some drank salt water, then jumped in the water, never to be seen again.

1. We lost our concentration. Many died. We threw their bodies in the water. It was dark. I don’t know how many of them there were.

14.

1. The same question arose again: why not get by without bodies, if their desires are to be thwarted?

15.

2. However hard it is, we have to think up a boat on the basis of a potential that surpasses the souls that guide it and the bodies that make it a reality.

3. The body is an analogy of a boat that Europeans keep fixing. It is a peculiar knot.

1. When the bodies bounce of the wall, all have something in common.

16.

2. Distant echoes determine the direction of movement.

1. And it is from there that the sight passes towards the heard. From individual depiction towards a collective echo, the effects of the whispering and bustle of people.

17.

For a long time now the world has been treated as an illusion or a dream. Everyone knows well that hallucination does not mimic the present, but that the present is hallucinatory.

18.

2. When the boat sails ahead in the water, we say the movement of the vessel is the cause of the movements of the water that floods the place from which the vessel has departed.

19.

1. They gave us no maps. Nothing. They only said “Head straight in this direction.”

2. No one could return. I saw three people falling in the water. There were about 107 of us. Twenty minutes later the boat overturned and I too fell in the water. I couldn’t breathe. The feeling of nausea escalated. I also saw a boy who fell, just like that. I didn’t know if he had only fainted or was dead. Then I noticed that he had only covered his eyes so as not to see the waves, nothing more.

20.

1. Is it the same river, the same thing, or is it the same case?

2. Those who have their lives in their hands we will never get to know.

21.

A disaster is not something that threatens to happen in the near future, or, on the contrary, something that has happened earlier. Rather it is something we experience right now. There is no specific moment of destruction. The world does not end with a big bang. The earth trembles. No one knows exactly what caused the disaster. Its cause lies somewhere in the distant past and is totally separate from the present. The catastrophe is a negative miracle, a curse, which no penance can undo. A disaster can only be alleviated by the intervention of something unpredictable, such as the event that triggered it. It makes no sense to try anything; only senseless hope makes sense.

What actually is a disaster? Maybe its design must be grasped as a metaphor or as an expression of some other kind of anxiety. How long can catastrophe exist without new stimuli? What happens if nobody comes up with anything surprising anymore?

A catastrophe suggests that the end has come, that the future can offer us only a repetition, a variation of one and the same thing. It is possible that we can no longer expect any surprises?

A consequence of anxiety is constant fluctuation. On the one hand the hope that sooner or later something has to happen, on the other the fatalistic view that nothing new can happen. We oscillate between waiting for the next big thing. How long has it been since something like that happened and how big was it actually?